Bengkulu Post – Kaur, Kembali terdengar isu penarikan sejumlah uang terhadap bakal calon seleksi Pengawas Desa (PD), Pengawas kelurahan (PK) dilingkungan Panitia Pengawas Pemilihan (Panwascam) Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kaur santer terdengar. Pungutan tersebut bervariasi antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta bagi peserta yang ingin lolos seleksi mendatang.
Kabar lain juga menyebutkan, kuota calon PD/PK dimasing-masing wilayah sudah penuh alias full. Sehingga, kuat disinyalir proses seleksi mendatang hanya akan bersifat seremonial belaka. Karena, nama-nama yang bakal lolos sudah dikantongi. Hal ini merupakan dampak dari besarnya modal yang dikeluarkan pada saat proses seleksi Panwascam beberapa waktu lalu.
Dugaan praktek Pungli terhadap proses seleksi ini mengalir berantai dari tingkat atas hingga ketingkat paling bawah. Bahkan, bukan hanya proses seleksi calon PD/PK saja, namun juga bagi yang ingin masuk menjadi tenaga kerja sekretariat pun disinyalir ada praktek Pungli.
Lagi-lagi, isu besar ini tidak terdeteksi oleh aparat hukum. Sehingga, praktek Pungli terus terjadi merajalela. Oleh karena itu, perlu adanya kerja keras aparat khususnya team yang tergabung dalam Sapu Bersih (Saber) Pungli Kabupaten Kaur.
Ada rasa tidak percaya terhadap terungkapnya dugaan Pungli ini. Mengingat, beberapa kasus hukum yang terjadi di Bawaslu Kaur juga belum tuntas hingga saat ini. Misalnya saja, kasus dugaan korupsi Bawaslu yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari). Meskipun sudah ada dua tersangka yang sudah menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Bengkulu, namun belum menyentuh ke pelaku lain yang menjadi otak korupsi.
Selain itu, dugaan korupsi Bawaslu yang ditangani oleh Satreskrim Polres Kaur juga belum ada keterangan resmi sejauhmana tindaklanjutnya. Hal ini yang memicu berkurangnya rasa percaya masyarakat terhadap pengungkapan adanya dugaan Pungli dalam proses seleksi Panwascam maupun seleksi PD/PK yang sebentar lagi akan dibuka.
“Banyak dugaan Pungli di jajaran Bawaslu Kaur hingga Panwascam. Namun, belum ada yang terungkap. Wajar ini terjadi karena korban tidak mau angkat suara secara terbuka, hanya isu yang terus berkembang,” ungkap Hasyanto (39) warga Kabupaten Kaur.(NS)
Sumber : Info Khatulistiwa.

