Pesisir Selatan. – Mande Rubiah merupakan gelar kehormatan tinggi bagi perempuan di pesisir selatan Sumatera Barat yang memiliki kedudukan setara dengan gelar Bundo Kanduang di pedalaman Minangkabau. Gelar ini bukan sekadar nama pribadi, melainkan personifikasi etnis bagi perempuan atau sosok yang dituakan dalam kaum. Dalam sejarahnya, Mande Rubiah diyakini sebagai pemegang takhta Kerajaan Minangkabau terakhir yang berpusat di Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan.
Kisah Mande Rubiah bermula dari peristiwa besar di Kerajaan Pagaruyung sekitar tahun 1520 M. Berdasarkan sejarah lisan dan tradisi di Lunang, pemimpin perempuan Minangkabau yang bergelar Bundo Kanduang bersama keluarga dan pengikutnya melakukan mengirab atau hijrah dari Pagaruyung menuju Tanah Menang di Nagari Lunang. Perpindahan ini membawa perubahan besar pada struktur adat, di mana gelar Bundo Kanduang kemudian berganti menjadi Mande Rubiah, begitu pula dengan gelar-gelar pemimpin dan nama suku yang ikut disesuaikan. Peristiwa ini terekam kuat dalam khazanah sastra Minangkabau melalui Kaba Cindua Mato, yang mengisahkan konflik antara Pagaruyung dengan pihak Tiang Bungkuk serta Imbang Jayo hingga akhirnya keluarga kerajaan berpindah untuk menjaga keselamatan dan kelangsungan keturunan.
Sejarah ini menjadikan Lunang sebagai benteng terakhir pertahanan tradisi kerajaan setelah pusat kekuasaan di Pagaruyung mengalami masa suram. Mande Rubiah tidak hanya menjadi pemimpin adat, tetapi juga penjaga benda-benda pusaka peninggalan Pagaruyung yang dibawa saat hijrah. Keberadaan Rumah Gadang Mande Rubiah yang kini berfungsi sebagai museum menjadi bukti fisik autentik dari perjalanan sejarah tersebut. Di sana, berbagai koleksi peninggalan para pewaris terdahulu tetap terjaga dengan baik, membuktikan bahwa otoritas perempuan dalam adat Minangkabau tetap kokoh meski pusat pemerintahan telah berpindah ke wilayah pesisir.
Saat ini, gelar Mande Rubiah telah mencapai keturunan ke-7 yang dijabat oleh Mande Rubiah Rakinah. Beliau bersama keluarganya terus mengelola museum dan menjalankan peran sebagai simbol pemersatu masyarakat adat di Lunang. Penghormatan masyarakat terhadap sosok Mande Rubiah tetap besar, menjadikannya salah satu ikon sejarah perempuan Minangkabau yang paling karismatik. Melalui pengelolaan Museum Mande Rubiah, warisan sejarah kerajaan terakhir ini tetap hidup secara inklusif dan dapat dipelajari oleh masyarakat luas sebagai bagian penting dari identitas budaya Sumatera Barat yang universal.
Sumber: Wikipedia
Laporan : Abu Razak.

