Jalan Poros Tengah: Wacana Lama Yang Baru Dipersoalkan Sekarang

Bengkulu Post | Lebong_Rencana pembukaan konektifitas baru di Kabupaten Lebong, bukanlah hal baru. Bahkan, wacana pembangunan jalan antar provinsi sudah berlangsung sejak lama.

Di antaranya, jalan Lebong, Bengkulu menuju Merangin, Jambi. Hingga Lebong menuju Desa Sungai Keradak, Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun.

Sebagai penunjang, wacana itu dimulai dari peningkatan beberapa jalan lokal. Seperti peningkatan jalan Uram Jaya-Turan Lalang hingga Talang Ulu menuju Danau Liang yang digadang-gadang sebagai konektivitas antar kabupaten melalui pengembangan jalan baru lintas tengah di Provinsi Bengkulu.

Dengan kondisi keuangan Lebong yang terbatas dan kawasan Lebong yang dikelilingi hutan lindung tentunya rencana pembangunan konektivitas baru tersebut perlu dukungan dari sektor anggaran hingga pihak terkait.

///Wacana Pembangunan Jalan Poros Tengah

Plt Kadis Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPR-P) Kabupaten Lebong, Joni Prawinata melalui Kabid Bina Marga Haris Santoso saat dikonfirmasi tak menepis perencanaan yang sudah berlangsung sejak tahun 2012 silam tersebut.

“Tentu kita butuh dukungan semua pihak. Seperti kolaborasi dengan unsur DPRD Lebong hingga yudikatif,” kata Toso di ruang kerjanya, kemarin (7/3).

Dia mengutarakan, seperti wacana pembangunan poros tengah yang ditandatangani antar daerah di Provinsi Bengkulu, empat bupati tandatangani nota kesepahaman pada tahun 2018 lalu. Mereka adalah Bupati Lebong, Bupati Rejang Lebong, Bupati Kepahiang dan Bupati Bengkulu Tengah.

Salah satu jalur yang diwacanakan sebagai poros tengah mulai dari titik Kelurahan Tanjung Agung-Danau Liang-PGE Hulu Lais-Kecamatan Rimbo Pengadang.

“Perencanaan dari tahun 2012 yang di mana tahun anggaran 2018 di sepakati dengan 4 kabupaten menjadi jalan poros tengah yang menghubung lebong-rejang lebong-kepahiang-benteng dan bengkulu,” terang Toso.

Namun, dengan kondisi medan yang sulit tentunya membutuhkan anggaran yang besar hingga mengantongi izin dari pihak terkait. Mengingat kawasan tersebut masih dalam kawasan hutan lindung.

“Sempat mangkrak dilanjutkan lagi pelaksanaannya di tahun anggaran 2016. Dan dilanjutkan lagi tahun 2020 dan 2021,” sambungnya.

Dia tidak menampik, saat ini Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang jalan Lebong dengan nilai Rp 28 Miliar tertinggi di Bengkulu. Akan tetapi, ia menyebutkan pagu anggaran itu lebih difokuskan pada penanganan jalan utama yang biasa dilewati masyarakat setempat.

“Tantangan butuh nya anggaran yang tidak sedikit untuk merealisasikan jalan tersebut dan ado 5 titik. Jembatan yang harus dibangun serta membutuhkan anggaran sampai dengan 200 miliar,” beber Toso.

Ia berharap, semua pihak dapat bekerjasama dalam menjemput anggaran pusat untuk pembukaan konektifitas baru. Baik pembukaan konektivitas antar kabupaten maupun antar provinsi.

“Kajian teknis jalan ini akan tetap dibangun program pengembangan wilayah untuk jangka panjang dan mepersingkat jarak temput dari Lebong-Bengkulu. Mengingat lebong lumbung energi. Daerah tujuan wisata dan lumbung pangan,” pungkasnya.

Lebih jauh, ia menegaskan, tetap menyambut baik aspirasi masyarakat maupun pihak terkait terkait rencana penuntasan jalan poros tengah tersebut.

“Apalagi selaku putra daerah, tentunya kita ingin yang terbaik. Tapi, semuanya ada tahapan yang harus kita lalui,” ungkapnya.

Ia meminta semua pihak tidak terpancing. Ia menyebutkan, pembangunan Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Pelabai menuju Nangai Tayau Kecamatan Amen, yang tuntas dikerjakan tahun 2021 lalu sudah sesuai dengan pagu anggaran. Tidak ada pengalihan jalan seperti yang beredar selama ini.

“Tidak ada pengalihan. Proyek ini merupakan lanjutan dari link pembangunan jalan segmen Tanjung Agung-Danau Liang, yang sudah dibangun sejak periode Bupati Lebong, Rosjonsyah. Bahkan, digadang-gadang menjadi jalan poros tengah,” demikian Toso.[Tuti/Adv]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *