Bengkulu Post | Lebong-Hingga bulan Juli 2023 ini angka stunting di Kabupaten Lebong berdasarkan bulan timbang yang dilaksanakan di beberapa puskesmas ada di angka menurun dalam persen dari target yang ditetapkan dalam RPJMD. Angka stunting ini terus turun dari tahun ke tahun. Sebagai wujud nyata pelaksanaan agenda Pemkab Lebong yang berkomitmen menutunkan angka stunting, maka digelar Rembuk Stunting: Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting kabupaten Lebong , Senin (31/07/2023).
Bupati Lebong, Kopli Ansori menegaskan bahwa permasalahan stunting bukan urusan kelompok atau perangkat daerah tertentu. Namun menjadi tanggung jawab bersama, baik secara institusional dan personal. “Oleh karena itu, Rembuk Stunting yang diikuti oleh berbagai pihak ini diharapkan dapat menyepakati program dan kegiatan pencegahan stunting yang terintegrasi antara intervensi spesifik dan sensitif,” kata Kopli Ansori.

Bupati berharap bahwa program harus berdampak pada masyarakat dan selalu melibatkan potensi pentahelix sejak awal hingga pada tahap evaluasi.
Lebih lanjut, Bupati menjelaskan bahwa adanya beberapa wilayah yang tercatat tingkat stuntingnya masih tinggi. Angka kemiskinannya rendah tapi bukan berarti (aman dari stunting), tapi karena pasangan usia suburnya banyak sehingga memang di wilayah tersebut potensi stunting juga akan tinggi. Nanti akan kita kuatkan, jadi kesadaran masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya untuk lebih baik. Ketika pasangan subur tidak mengatur kehidupannya akan tidak menutup kemungkinan dia mempunyai anak stunting,” ujarnya.
Mengingat pentingnya penanganan stunting ini, Pemkab Lebong pun telah membentuk Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS). Pada kesempatan ini, Bupati menyampaikan terima kasihnya atas kerja sama yang telah terjalin oleh semua pihak demi mengupayakan penurunan stunting. Pria ramah dan merakyat ini pun, menjabarkan berbagai program kerja TPPS.
“TPPS Pemkab Lebong dengan membentuk TPPS baik di tingkat kecamatan dan kelurahan. Lalu melakukan sinergitas dan penguatan TPPS yang dihadiri oleh Forkopimda, TP PKK, perangkat daerah terkait, kementerian agama, peguruan tinggi, hingga tim pakar. Selain itu, diadakan juga mini lokakarya di kecamatan. TPPS juga melakukan audit kasus stunting termasuk bagaimana rencana tindak lanjutnya,” sebut Pak Kopli , sapaan Bupati Lebong itu.

Acara turut dihadiri oleh Unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), Sekda Lebong Mustarani Abidin, Kepala Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) terkait, Ketua TP PKK Lebong/mewakili, Camat se-Kabupaten Lebonh, Organisasi Profesi, Mitra Kerja TPPS Kabupaten Lebong Barat dan undangan lainnya.
Bupati Lebong, Kopli Ansori yang disampaikan Wabup Lebong, Fahrurrozi mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggara acara ini. Semoga, melalui kegiatan ini terciptanya komitmen dari seluruh pihak yang hadir dalam percepatan penurunan stunting secara bersama, serta program yang telah dirancang dapat direalisasikan dengan baik.
“Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada dibawah standar yang ditetapkan Menteri yang menyelenggarankan urusan pemerintahan di bidang kesehatan,” kata Kopli, Senin (31/7).
Dia menambahkan, target prevalensi stunting Kabupaten Lebong dari tahun 2022, yakni SSGI Lebong tahun 2022 dengan nilai 20,2 persen. Kemudian tahun 2023 ditargetkan turun menjadi 16,34 persen, serta tahun 2024 ditargetkan kembali turun 12,97 persen.
“Pada tahun 2020 di Provinsi Bengkulu ada 4 kabupaten menjadi lokus stunting, yaitu Bengkulu Utara, Seluma, Kaur dan Bengkulu Selatan. Namun, pada tahun 2022 seluruh kabupaten/kota menjadi lokus stunting. Termasuk Kabupaten Lebong,” jelas Bupati.
Menurut WHO, batasan Prevalensi Stuning suatu wilayah sebesar 20 persen. Secara nasional prevalensi stunting tahun 2018 dari data Riskesdas yaitu 30,8 pesen menjadi 27,67 persen.
Dari data studi status gizi balita indonesia (SSGBI) tahun 2019 dan tahun 2022 yaitu 20,2 persen dari data studi Status Gizi Indonesia (SSGI).
“Meskipun sudah menurun, tetapi masih jauh dari batasan WHO,” tutupnya.[Thuty]

